• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

Judul yang absurd. Kaya judul koran lampu merah.

Sore hari. Menjelang Maghrib. Keluarlah aku dari rumah teman setelah menyelesaikan beberapa urusanku disana. Baru sekitar dua menit naik motor, adzan Maghrib berkumandang. Akhirnya aku putuskan buat shalat Maghrib dulu di masjid terdekat (Kan ngga mungkin ke masjid terjauh. Keburu Shalatnya habis dong)

Aku parkir motorku dan langsung menuju tempat wudhu. Di tempat wudhu aku lihat beberapa anak kecil, sekitar lima anak kira-kira seumuran kelas 4 SD. Sambil wudhu mereka bercakap-cakap. Sambil menanggalkan jaket dan tas yang sedari tadi aku gendong, aku coba curi-curi dengar percakapan mereka. Karena biasanya anak-anak seumuran segitu, yang mereka perbincangkan itu hal-hal yang lucu yang cenderung konyol. Dan ternyata benar.

Entah tadinya mereka lagi ngomongin apa. Tapi pada intinya, mereka lagi ngomongin gimana caranya membuka sesuatu lewat HP pakai VPN. Aku langsung berbaik sangka dong. Kan ngga mungkin anak seumuran itu pakai VPN buat buka video itu (You know what I mean). Apa jangan-jangan mungkin saja? Ah mari kita berbaik sangka saja. Mungkin mereka pakai VPN buat bypass game yang diblokir. Karena memang setelah itu salah satu dari mereka ngomngin Jess No Limit, Youtuber yang duitnya Milyaran Cuma dari main game.

Ngomong-ngomong soal menghasilkan duit milyaran dari main game, kayaknya orang tua sekarang pasti sering berdebat sama anaknya soal main game.

Ibu :”Jess, kamu pagi siang malam kerjanya main hape doang. Emang ngga ada kerjaan lain? Mau jadi apa kamu?”

Anak :”Main game bu. Kadang buka Bigo live juga sih liat cewek-cewek seksi. Bentar doang tapi”

Ibu :”Halah. siang malam main game, emang main game bisa ngasilin duit apa? Anak istri kamu nanti mau dikasih makan apa?”

Lalu beberapa tahun kemudian si anak membawa uang segepok ke ibunya dan bilang kalo itu duit dari main game.

Anak : “Ini bu, uang Satu Milyar Dua Puluh Lima Ribu, hasil aku menang main game HP”

Lalu si ibu tersadar dan meminta maaf ke si anak.

“Maafkan ibu nak dulu sering memarahi kamu karena main game. Sekarang terserah kamu. Kamu udah besar bisa memutuskan mana yang terbaik. Ini ibu ada HP Samsung Galaxy Young keluaran tahun 1990. Kamu pakai aja buat main game. Biar penghasilan kamu semakin banyak”. Lalu si anak mimisan dan pingsan.

Ngomongin anak-anak jaman sekarang, emang ngga bisa lepas dari yang namanya gadget. Kalo pemerintah pernah bilang bahwa bayi sekarang udah melek IT, memang ada benarnya. Karena aku pun merasakannya. Anakku yang belum genap 2 tahun, udah bisa bedain mana segitiga, mana lingkaran, mana oval, mana persegi panjang, mana Saham yang bakal naik, mana saham yang bakal turun dan hal-hal lain yang bikin aku mikir “pintar sekali anakku. Sepertinya Einstein ngga sepintar anakku”. Pengetahuan-pengetahuan semacam itu dipelajari anakku hanya dari Gadget. Coba bandingin sama aku waktu umur 2 tahun. Kayaknya umur segitu yang aku tahu Cuma nenen nenen dan nenen. Mana nenen yang diolesin kunyit, mana yang ngga. Paling gitu doang. Wong masuk SD aja yang aku tahu Cuma Gobak sodor, petak umpet, paling pol main Tetris di Gamebot aja udah berasa anak paling pinter.

Gadget di masa kini memang bagaikan pisau bermata dua. Ada banyak sisi positifnya, tapi ada banyak sisi negatifnya juga. Mari kita bedah satu persatu negatif dan positifnya dari sudut pandangku.

Sisi positifnya. Anak-anak menjadi cepat berkembang pengetahuannya. Hal ini terjadi kalau gadget digunakan dengan baik, sebagaimana mestinya. Seperti anakku yang umurnya baru 2 tahun itu, pun begitu dengan anakku yang pertama. Di umur anakku yang belum genap 5 tahun, Divya udah tahu kalo Tirex itu berbahaya karena makanannya daging. Dia pernah bilang gini, ”Ayah, nanti kalo di sekolahan ketemu Tirex, ayah lari ya. Soalnya tirex kan Dinosaurus nakal. Suka makan daging. Nanti kalo ayah ngga lari, ayah dimakan. Kan nanti Divya sedih”. Dalam hatiku “Yaelah. Kalo Dinosaurus masih ada sampai sekarang, kamu juga ngga bakal ada. Udah habis semua manusia dimakan”. Masalah Divya belum tahu kalo Dinosaurus udah punah, kan itu urusan lain.

Coba bandingkan sama pengetahuanku pas 5 tahun. Paling pol yang aku tahu, 2 permen Milkita sama dengan segelas susu. Dari 2 kisah anakku tadi saja kayaknya udah bisa ngasih gambaran kalo gadget bisa bikin pengetahuan anak-anak begitu luas. Bahkan jauh melebihi umur mereka.

Nah sisi negatifnya, pasti kita udah tahu lah gimana pengaruh gadget ke anak-anak. Di berbagai media udah dibahas berbagai macam dampak buruk gadget untuk anak-anak. Kecanduan game, tidak ingat waktu, tidak ingat makan, tidak ingat belajar, tidak ingat utang, dan lain sebagainya.

Tapi buat aku yang masih belajar jadi orang tua yang bener dalam mengasuh anak, kunci sebenernya ada di pendampingan orang tua.

Orang tua sangat dibutuhkan dalam mendampingi anak bermain gadget. Orang tua harus aktif dalam membatasi anak dalam penggunaan gadget sehari-hari. Kapan mulai menggunakan, kapan harus berhenti, kapan harus bermain bersama teman-teman, kapan harus membangun negara, kapan harus membangun candi, kapan harus memangun piramida. Semua itu harus berjalan beriringan antara orang tua dan anak. Karena di masa modern seperti sekarang ini, yang mana teknologi menjadi sangat penting, penggunaan gadget pada anak memang tak bisa dihindari. Bahkan memang sudah menjadi kebutuhan. Untuk itu diperlukan kontrol yang ketat dari orang tua dalam mengawasi anak-anak dalam menggunakan gadget agar hal-hal buruk yang ditimbulkan dari penggunaan gadget bisa dihindari. Apalagi di gadget itu ada makhluk tak kasat mata bernama internet. internet itu, ada segudang hal baik, tapi ada segudang pula hal buruk. Untuk itu kontrol orang tua mutlak diperlukan.

Ngomong-ngomong soal anak-anak seumuran kelas 4 SD yang wudhu sambil ngomongin VPN, dijaman sekarang kayaknya udah ngga begitu aneh anak-anak ngobrolin kaya gituan. Lebih aneh kalo ada anak umuran segitu ngobrolnya begini.

Dimas:”Kok bisa ya Taliban menguasai Afghanistan? Kan di Afghanistan ada tentara yang dari pemerintah? Dan lagi ya. Di Afghanistan kan ada tentara Amerika yang jaga disitu juga buat bantuin ngelawan Taliban. Kok bisa sih yang menang  Taliban?”

Seto:”Alah kaya ngga tahu aja. Namanya juga politik. Noh lihat di negara Wakanda. Koruptor yang jelas-jelas bersalah aja kalo lagi masuk gedung KPK senyum-senyum aja ke kamera kaya ngga ada malunya”.

Vijay:”Kok kalian obrolannya berat? Lagian jawaban Seto ngawur. Ngga nyambung ama pertanyaan Dimas”

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 “Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.

Begitulah salah satu rangkaian lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya. Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain. “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok malah ngelantur kemana-mana.

Kembali ke topik. Di tulisan saya sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.

Kembali ke Maret 2019, saya mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya. Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang dan harus diambil oleh yang bersangkutan.

Detik mendebarkan itu pun tiba, perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu. Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan ditempatkan.

Setelah SK CPNS berada di tangan, dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85 kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.

Tidak disangka tidak dinyana, bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng.  Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat keputusan mutasi secara simbolis.

Aduh. Jadi deg-degan lagi . Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.

2 hari berlalu, tibalah saatnya penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS, perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah, puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”.

MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.

Bangunannya memang bukan bangunan baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat bagus untuk perkembangan anak didik kita.

Hal lain yang menguatkan bahwa MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.

Itulah cerita bagaimana perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.

Ada fakta menarik di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 😃😃😃

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

“Jangan makan burung emprit. Nanti tua hidupnya pindah-pindah terus”. Begitu mitos yang sering diucapkan orang-orang tua di kampungku. Tapi dari jaman aku kecil ucapan-ucapan ngga masuk akal semacam itu selalu aku bantah. Soalnya dipikir secara logika aja ngga nyampe. Apalagi kalau dikaitkan dengan agama. Bisa menjerumus ke Tatoyur. Mempercayai sesuatu yang terjadi karena sebab-sebab yang ngga masuk akal. “Jangan berdiri di depan pintu. Nanti menghalangi rejeki”. “Jangan nyisain makanan ntar ayamnya mati”. “Jangan berdiri di tengah jalan tol, nanti ditabrak sedan”. “Jangan kritik pemerintah. Nanti ada kang bakso lewat”. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal yang bikin aku semakin ngga percaya kalimat-kalimat ngga masuk akal tadi adalah, dari jaman orok aku ngga pernah makan burung emprit. Tapi hidupku udah kaya burung emprit. Pindah-pindah terus. Dari desa satu ke desa lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, bahkan dari pulau satu ke pulau lain. Mari kita bedah.

Lulus SD, aku udah harus kerja di Majalengka Jawa Barat selama kurang lebih 2 tahun. Ngga dapet apa-apa tuh disitu. Paling yang aku dapet  jadi lancar banget ngomong Bahasa Sunda waktu itu. Bahkan kalo orang Sunda waktu itu ngomong sama aku, dikira aku orang Sunda. Sangkin luwes dan fasehnya. Lulus SD merantau ke Majalengka Jawa Barat 2 tahun.

Karena keadaan keluargaku yang wadidaw sekali, ikutlah aku sama orang yang biayain aku sekolah. Pindah ke desa lain. 3 tahun.

Kuliah ngga aku anggep merantau lah ya. Karena emang harus kuliah di Semarang. Kan ngga mungkin kuliah di kampungku sendiri.  

Habis kuliah akhirnya pertarungan sesungguhnya. Merantaulah ke luar pulau. Samarinda, Kalimantan Timur. 2 tahun. Lumayan tuh disana dapet macem-macem. Dapet uang mahar, dapet biaya lahiran anak pertama, dapet pengalaman sebagai karyawan Indomaret, dapet pengalaman dibentak-bentak manager, dapet banyak lah pokoknya disana.

Sehabis istri melahirkan, resignlah aku. Balik lagi ke kampung halaman. Jadilah perangkat desa. Kurang lebih 2 tahun. Nah pas jadi perangkat desa ini aku juga tinggal pindah-pindah antar kecamatan. Soalnya aku ikut mertua di Karangkobar, tapi perangkat desanya ikut kecamatan kalibening.

2018, ikutlah aku tes CPNS. Diterimalah aku di Kementerian Agama. Ditempatkanlah di Kebumen. 2 tahun kurang lebih.

Kaya ketiban Durian Montong, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dapet surat cinta dari Semarang. Dimutasilah aku Kembali ke Banjarnegara. Tempat baru lagi, ketemu orang-orang baru lagi, adaptasi lagi, dan tetek bengeknya. Tapi aku Bahagia. Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, kota kecil nan menggemaskan ini, adalah harapanku sedari dulu. Walaupun aku udah kerja kemana-mana, Kembali ke Banjarnegara adalah harapan yang selalu tersimpan dalam hati.

Jadi intinya di tulisan ini aku mau bilang, “Jangan makan burung emprit nanti hidupnya pindah-pindah terus”, adalah sebuah kebohongan yang nyata.

Semoga di Banjarnegara ini bisa sampai pensiun lah ya. Capek banget pindah-pindah terus. Kaya hati seorang jomblo yang gonta ganti pasangan namun tak jua menemukan tambatan hatinya.

Hubungannya sama judul? Sangat erat hubungannya.

Di setiap kepindahanku pasti selalu ada “Shit”nya. Banyak banget. Yang pasti, CAPEK. Tapi mau gimana lagi. Wong kita Cuma wayang. mau gimanapun jalan kehidupan kita, ya terserah sang Dalang. Tetap bersyukur adalah kunci dari semua ini. Well, let me say…. EVERY SHIT HAPPEN, BUT …. LIFE MUST GO ON.

Dari rangkuman perjalanan hidupku ini, kayaknya ada sesuatu di balik 2 tahun. Hampir semua perjalanan karirku (cie karir 😀) selalu berpindah setelah 2 tahun. Majalengka 2 tahun, Samarinda 2 tahun, Kebumen 2 tahun. Apakah di Banjarnegara ini akan berpindah lagi setelah 2 tahun? Aku sendiri penasaran. Patut buat aku tunggu.

Oh iya satu lagi inti dari tulisan ini adalah….. Dulu di Samarinda aku sering dibentak-bentak manager. Namanya Pak Wayan. Dari Bali dong. Masa dari Jawa. Kalo dari Jawa namanya Wahyono. 😀

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Anak saya yang besar, Divya, beberapa hari ini sedang tergila-gila sekali dengan Boboiboy. Karakter kartun dari Negeri Jiran yang mempunyai kekuatan super yang didapatkan dari sebuah robot yang datang dari luar angkasa, yang dengan kekuatannya itu, Boboiboy dan kawan-kawannya berusaha melindungi bumi dari tokoh antagonis utama yaitu seekor alien berkepala kotak berwarna hijau bernama Adudu. Yang aneh, Adudu mengincar planet bumi dikarenakan ingin mendapatkan kekuatan yang bersumber dari cokelat. Iya. Cokelat. Cokelat yang untuk bahan minuman atau Silver Queen itu. Tidak terbayang bagaimana seandainya Soekarno hidup di planet Adudu. Karena beliau tinggal di bumi, beliau pernah pidato seperti ini, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia.
 Kalau di planet Adudu, pasti kalimatnya akan menjadi seperti ini, “Berikan aku 10 karton cokelat, maka akan aku goncangkan tata surya”. Sangat tidak elegan diucapkan oleh seorang Soekarno. Geeeerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Kesukaan Divya kepada Boboiboy diawali ketika RTV, sebuah stasiun televisi swasta yang memang hampir setiap saat isinya acara anak-anak,  mulai menayangkan Boboiboy setiap hari, pagi dan malam. Karena kesukaanya itu, anak saya mulai terobsesi dengan salah satu karakter di kartun Boboiboy. Gopal. Karakter yang lucu, penakut, cerewet, nyeleneh, absurd, pokoknya Gopal ini karakter bagian lucunya di kartun Boboiboy. Gopal ini mempunyai kekuatan mengubah segala sesuatu menjadi makanan. Dengan kekuatan itu, Gopal dapat dengan mudah mengubah serangan-serangan musuh menjadi hanya sebuah lelucon tak berguna. Hal ini juga karena memang Gopal sangat suka makan. Bahkan ketika pulang dari luar angkasa setelah bertarung dengan musuh, Bapaknya yang ada didepannya tidak dihiarukan dan langsung lari karena ingin segera makan makanan ibunya di rumah. Sepertinya, sifat Gopal yang suka makan tidak jauh beda dengan saya.

Karena obsesi kepada Gopal itu, Divya berusaha membawa karakter Gopal ke dunia nyata. Kami, satu keluarga, sering sekali harus menjadi seperti Gopal. Sebagai gambaran, dalam kesehariannya Gopal selalu memakai semacam bandana untuk merapikan rambutnya. Karena hal itu, saya sering harus memakai ikat rambut yang dilingkarkan ke kepala supaya menjadi seperti Gopal. Begitu pula dengan istriku. Bahkan kakek dan neneknya. Baru saja tadi pagi saya harus memakai ikat rambut padahal mau pergi ke pasar. Mirip Gopal engga, kaya orang stress iya.  

FYI, saya juga sangat sangat sangat menyukai serial Boboiboy. Jauh lebih suka daripada serial Upin dan Ipin, apalagi serial Jeritan Hati Seorang Istri di Indosiar. Saya malah menyukai serial Boboiboy ini sudah sangat lama. Jauh sebelum anak saya mengenal Boboiboy. Kalau tidak salah ingat, waktu itu belum tayang di televisi, atau mungkin pernah tayang tapi bukan di RTV.

Sangkin Sukanya saya dengan serial Boboiboy, saya sampai download semua episode dari Youtube resminya Monsta, Publishernya Boboiboy, dari musim pertama sampai musim Boboiboy Galaxy. Dan itu dulu saya lakukan waktu masih menjadi perangkat desa. Seorang perangkat desa yang ganteng, berwibawa, mempesona, dengan setelan kekinya, yang cukup dipandang oleh warga desanya, ternyata serial favoritnya Boboiboy. Apa itu Money Heist? Apa itu Attack On Titan?

Dengan tayangnya serial Boboiboy di RTV, ini menjadi salah satu nostalgia indah saya. Membayangkan dulu ketika saya pusing sekali mengelola uang negara saat menjadi Bendahara desa, menonton Boboiboy adalah salah satu obat ampuh untuk mengembalikan energi positif.

Sekarang, gara-gara serial ini tayang di TV,  istri saya sering marah-marah karena saya sering ketawa ngakak sendiri melihat kelakuan Gopal, padahal anak saya yang kecil sedang nyungsruk di depan mata.

Coba kalo saya punya kekuatan seperti Gopal. Akan saya ubah omongan orang-orang menjadi makanan enak. Mereka yang ngoceh, kita yang gemuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Membesarkan anak adalah seni kehidupan yang luar biasa. Ada begitu banyak hal-hal baru yang tidak kita temui di kala hidup sendiri. Ada begitu banyak kejadian yang membuat kita harus mengernyitkan dahi, membuat kita tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja ada hal yang membuat kita harus menangis dalam perjalanannya. Mari aku ajak pembaca untuk ikut merasakan  beberapa hal yang aku alami Ketika membesarkan anakku.

Anak pertamaku berumur 4 tahun. Aishwarya Divya Lituhayu Namanya. Luar biasa aktif, jarang sekali diam, dan cukup keras kepala kalo sudah kepengin sesuatu. Like father like son. Begitulah peribahasa yang sangat menggambarkan anak pertamaku ini. Karena konon, menurut penuturan ibuku, aku adalah orang yang kalau sudah kepengin sesuatu, harus segera terlaksanakan. Tidak boleh tidak. Pernah suatu ketika aku kepengin sekali makan ayam. Ibuku bilang “Oke. Besok ya. Ibu ke pasar dulu. Nanti sepulang dari pasar, ibu bawa ayam”. Beberapa saat setelah dijelaskan, aku malah naik ke lemari tempat menyimpan makanan, mencari-cari barangkali ayam sudah ada di lemari, dan membuat lemari roboh.

Ada banyak hal lain yang ibuku ceritakan mengenai keras kepalanya aku sewaktu kecil. Seperti disengat lebah padahal sudah dibilangin jangan dipegang, menggoda cewek yang ternyata adalah cowok Cuma gara-gara rambutnya Panjang, dan banyak hal absurd lain yang aku lakukan sewaktu kecil.

Seperti aku bilang tadi, like father like son. Begitu pun dengan Divya. Suatu ketika dia pengin banget bermain ke taman wisata baru yang ada di Banjarnegara.

Divya : “Yah, ada tempat wisata baru di Banjarnegara, pengin main kesana. Ada Teletubies raksasa, ada hewan-hewan raksasa, pokoknya bagus-bagus yah. Ayo kesana”.

Aku : “Ada janda-janda cantik raksasa ngga Mba?”

Divya : “Coba tanya gitu ke ibu!”

Aku : -Terdiam seribu Bahasa- ……………………….  “Ya udah. Kita kesana”.

Divya : “Ya udah ayo siap-siap. Ayah panasin dulu motornya. Kita berangkat”

Aku : “Jam berapa mba? Ini kan jam 7 malem. Mau kesana ngapain jam segini? Mau ronda?”

Begitulah seonggok contoh bagaimana Divya kalo sudah kepengin sesuatu.

Selain sifat “keras”nya itu, dia juga punya imajinasi yang cukup unik dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Mari aku ceritakan.

Divya adalah anak rumahan sekali. Jarang sekali keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya. Kalau orang dewasa mungkin disebutnya introvert. Teman pun Cuma punya beberapa biji. Kalau pun bermain dengan teman-temannya, mereka yang datang ke rumah.

Suatu ketika ada 2 teman Divya datang ke rumah. Namanya Askana dan Zara. Ceritanya mereka sedang bermain jual beli. Askana berperan sebagai pembeli dan Zara berperan sebagai penjual. Transaksi mereka terjadi di sebuah mall. Askana meminta Divya untuk berperan sebagai teman dan menemani Askana belanja di Mall. Dan tebak apa yang terjadi? Divya tidak mau menjadi teman dan memilih menjadi Dinosaurus. Dinosaurus yang berjalan-jalan di mall, menemani Askana belanja. Diperagakannya pula Gerakan Dinosaurus itu layaknya seekor Tirex. Alhasil, istri dan ibu mertuaku yang waktu itu sedang mendengarkan, tertawa terbahak-bahak sekaligus mangkel. “Divya, mana ada Dinosaurus jadi teman manusia, terus jalan-jalan di Mall sambil belanja?”, kata istriku menasehati.

“ya sudah aku jadi kucing saja. Menunggu Askana di luar mall”, jawab  Divya sambil memperagakan Gerakan kucing sedang menjilati bulu-bulu kakinya.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

 

Gara-gara film 5 cm, semua orang pengin naik gunung. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, anak kecil, bapak-bapak yang bawa anak kecil, ibu-ibu yang bawa anak muda, anak muda yang bawa bapak-bapak, semuanya pengin mendaki gunung.  Padahal ini termasuk olahraga yang tergolong ekstrim. Bahkan aku sering lihat pasangan suami istri bawa anak balitanya naik gunung. Aku cukup dibuat heran kalo yang model gini. Soalnya waktu itu aku pernah lihat di puncak Prau, ada balita yang bahkan jalannya itu masih sempoyongan, sedang dituntun kedua orang tuanya. Kayaknya, orang tuanya mau nganter anaknya ke Posyandu, tapi salah jalur. Akhirnya iseng sekalian sampai ke puncak.

Gara-gara film 5 cm pula, banyak anak muda alay (ada yang tua juga sih), yang ngga tahu menahu tentang dunia pendakian, tiba-tiba pengin naik gunung dengan bekal pengetahuan dan logistic seadanya. Yang penting eksis. Instastory estetik. Instagram banyak like, postingan di grup facebook banyak sanjungan. Begitulah kira-kira gambaran para pendaki dadakan di era sekarang. Tentu saja tidak semua pendaki seperti itu. Banyak juga pendaki baru yang benar-benar mempelajari bagaimana menjadi pendaki yang baik dan benar sebelum mendaki gunung.

Sekali lagi, sebenarnya kegiatan mendaki gunung adalah termasuk kegiatan ekstrim dan penuh resiko. Silakan search berapa banyak pendaki yang meninggal di gunung, atau bahkan sampai sekarang tidak diketemukan keberadaannya. Hal ini membuktikan bahwa mendaki gunung bukanlah kegiatan yang bisa dianggap sepele dan sembarangan dalam persiapannya. Ada banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari sebelum benar-benar ingin mendaki gunung.

Ngomong-ngomong soal mendaki gunung, aku mulai kenal dengan dunia pendakian gunung waktu aku kelas satu SMA. Waktu itu di sekolah ada ekskul Pecinta Alam atau yang biasa disebut PA. Alasanku masuk ekskul pecinta alam karena aku cukup menyukai aktivitas outdor. Dan aku banyak dapat cerita dari senior-senior bahwa di ekskul pecinta alam sering banget ngadain kegiatan di luar sekolah, yang ternyata memang benar. Setelah aku masuk ekskul PA, memang banyak banget kegiatan di luar sekolah yang menurutku sangat bermanfaat. Waktu itu kami lagi gencar-gencarnya ikut sosialisasi Global Warming dan penanaman pohon. Kami berkeliling seantero Banjarnegara untuk melakukan sosialisasi dan penanaman pohon. Kadang di SMA-SMA tetangga, kadang malah di desa antah berantah yang jauh dari perkotaan.

Di ekskul PA juga lah akhirnya aku mengenal dunia pendakian. Bukan langsung mendaki gunung dengan tanpa bekal apapun. Tapi kami harus melakukan serangkaian kegiatan di suatu gunung dengan mempraktikkan berbagai macam hal-hal dasar yang wajib diketahui oleh pendaki gunung. Kami diajari navigasi darat, membaca kompas, rock climbing, survival, dan masih banyak ilmu-ilmu yang lain yang semuanya itu sangat berguna jika suatu saat amit-amit terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan Ketika mendaki gunung.  

Selain kegiatan-kegiatan itu, ngga afdol dong kalo anak Pecinta Alam ngga ada kegiatan naik gunung beneran? Tentu saja kami punya program pendakian gunung. Dan ndilalah waktu itu pembina ekskul kami adalah salah satu orang yang ekspert di bidang pendakian gunung. Akhirnya setelah melalui musyawarah yang cukup panjang, diputuskanlah kami akan mendaki gunung Sindoro, yang mana ini akan menjadi pendakian gungung pertamaku. Ada rasa yang sangat menggebu-gebu karena dari dulu aku memang pengin banget mendaki gunung.

Tapi keinginan tinggallah keinginan. Walaupun pahit dan menyayat ulu hati, aku memutuskan ngga bisa ikut pendakian. Kenapa? Karena waktu SMA kan aku miskin kronis. Miskinnya itu benar-benar merasuk sampai tulang belakang. Lah boro-boro buat sangu mendaki gunung, lha wong bisa sekolah aja sudah sujud sukur.

Setelah pendakian Sindoro selesai, aku kalo mendengar teman-teman bercerita tentang pendakian mereka, aduh hati ini rasanya teriris-iris. Kalo temen-temen pada tanya, “Kok kemarin ngga ikut mendaki Sindoro?”, selalu aku jawab “Ngga bisa. Kemarin ada urusan keluarga yang ngga bisa ditinggal”. Ya memang kenyataannya ada urusan yang ngga bisa ditinggal. Urusan kemiskinan. Hehehe.

Setelah kejadian itu, aku bertekad. Suatu saat nanti, kalo aku udah cukup mapan secara finansial, aku mau mendaki banyak gunung. “Aku pengin ngopi dan merokok sambil menikmati luar biasanya lukisan Tuhan diatas gunung”, begitu kataku dalam hati.

Akhirnya keinginanku menjadi kenyataan. Gunung Ungaran, Semarang. Menjadi gunung pertamaku. Waktu itu tahun 2010. Awal-awal aku masuk kuliah. Apakah karena waktu kuliah sudah kaya, sehingga keinginan naik gunung bisa tercapai? Ngga juga. Waktu kuliah juga masih kere. Tapi sudah ngga begitu kronis. Paling ngga, cukuplah untuk sekedar naik gunung. Walaupun, satu minggu setelahnya harus puasa Senin Kamis. Puasa dari hari Senin, sampai hari Kamis. Kadang malah lanjut sampai Jumat puasanya. Sabtu Minggu ngga puasa. Karena kan hari libur. Geerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Nowadays, aku bersyukur banget karena alasanku ngga bisa naik gunung, bukan karena ngga punya uang. Tapi lebih kepada ngga ada waktu, kesempatan, cuaca yang ngga menentu, dan tentu saja digondeli sang istri tercinta.

Begitulah ceritaku tentang asal mula bagaimana aku mengenal pergunungan duniawi. Setelah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri, beberapa gunung di Jawa Tengah yang meanstream, sudah aku daki. Walaupun, setelah sampai puncak ada beberapa gunung terlihat seperti bukan gunung. Tapi lebih mirip ke pasar. Isinya manusia dan kebisingan.

Masih banyak hal lain soal gunung yang mau aku certain lain waktu. Karena ada banyak pengalaman unik waktu naik gunung. Soal bagaimana seramnya, bagaimana capeknya, bagaimana persiapannya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan, “Pendaki gunung pada shalat ngga ya? Pasti ngga shalat”. Lain waktu aku tulis. Kalo ngga ngantuk.

Prau

Merapi

Sindoro 

Slamet

Sumbing
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Mumpung lagi semangat nulis, iseng-iseng aku jelajahi blogku yang sederhana ini. Aku baca-baca lagi tulisan-tulisan lamaku. Kadang senyum, kadang sedih juga. Karena memang blog ini aku buat untuk curhat kehidupan sehari-hari yang pernah aku alami, terutama hal-hal yang aku highlight. Karena aku ini tipe orang yang suka curhat. Suka bercerita. Nah, blog ini salah satu medianya. Sebenernya udah banyak banget tulisan yang pernah aku buat. Tapi ngga semuanya ngumpul di blog ini. Karena dulu aku masih kere, jadi tulisanku masih di platform-platform gratisan. Kemana-mana. Tercecer. Makanya, sangkin kerenya aku ngga mampu beli domain dot com. Dan karena hal itu, aku pernah jadi bahan ejekan temanku yang juga hobi nulis-nulis ngga jelas. Tulisannya bisa dibaca DISINI.

Lagi asyik-asyik scroll tiba-tiba aku cukup kaget lihat arsip tulisan di 2020. Bukan soal tahun 2020nya. Tapi jumlah tulisannya. Aku Cuma bikin 8 tulisan selama 2020. Itu cukup membuat aku terhenyak, kaget, merinding, melamun, sedih, kecewa, dan gundah gulana. Aku sampai harus menenangkan diri di kamar selama seminggu karena kejadian ini.

Yang bikin aku semakin sedih dan kecewa sampai mencakar-cakar muka sendiri, ternyata semakin kesini tulisanku terasa kurang luwes, kaku, dan cenderung ngga tertata. Baik diksi maupun gaya bahasanya. Karena setelah aku baca-baca lagi tulisanku yang ada di platform lain, tulisanku dulu cenderung lebih luwes dan enak dibaca. Dan yang paling penting, lebih lucu.

Bahkan istriku yang cuek, dan cenderung tidak mau membaca tulisan-tulisanku, tiba-tiba menjadi kritikus handal. “Kebanyakan mengulang kata itu”. “Ngga konsisten. Tadi bilang aku, kok jadi saya?”. “Kok ngga ada lucu-lucunya?”, “Kok mukamu ngga kaya Joong Kook?”. Dan kritik-kritik pedas lain yang membuat jiwaku semakin jatuh ke lembah kesedihan.

Dari dulu sebenernya aku sadar. Menulis itu bukan hanya sekedar menulis. Butuh ketekunan dan konsistensi. Karena semakin kita konsisten menulis, tulisan kita dengan sendirinya akan semakin membaik. Dan itu juga yang sering aku dengar dari penulis-penulis terkenal itu. Makanya di tahun 2021 ini ada resolusi sederhana di blog yang sederhana ini. Satu hari satu tulisan. Ini juga pernah jadi resolusi temanku yang aku singgung di awal tadi. Dia ngga tahu kalo sudah punya anak dan istri, boro-boro satu hari satu tulisan. Kadang naikin celana melorot aja ngga sempat gara-gara digandulin anak-anak. Apalagi kalo sudah kepikiran popok habis, susu habis, padahal baru separuh bulan. Aduh boro-boro jadi tulisan. Jadi kasbon iya.

Emang bisa satu hari satu tulisan? Ya ngga tahu. Namanya saja resolusi. Semoga rasa malas-malas yang membuat resolusi tidak terlaksana bisa hilang, berganti dengan konsistensi untuk terus menulis.

“Emang motivasinya apa?”. Ngga ada. Seneng aja rasanya ada sesuatu yang bisa diungkapkan. Karena balik lagi ke awal, aku orangnya suka curhat. Suka cerita ke orang. Makanya isi blog ini ya Cuma cerita-cerita ngga penting tentang hidup aku. Kalo ada yang baca ya syukur. Lebih syukur lagi, kalo yang baca semakin banyak, dan banyak-banyak klik iklan. Adsense. Adsense. Adsense. Uang. Uang. Uang.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM